Kepada Sahabat-sahabatku
Dalam kebahagiaan Hati
Gema takbir mengalun memecah sunyi. Menghiasi suasana gerimis hati. Signal perpisahan akan Ramadhan tahun ini kuat sudah. Kerinduan pun tertumpah. Bersama sederet tanya yang meronta meminta jawabnya. “Apa yang kau dapat di Ramadhan kali ini”, tanya menghujam jiwaku yang bersimpuh meski raga tegar adanya.
Aku adalah insan yang merugi, tak mampu memanfaatkan Ramadhan dengan hiasan penuh amal kebaikan. Berbahagialah kalian yang gembira karena teah mendapatkan hasil dari sebulan pengemblengan ketakwaan. Maka Hari Kemenangan adalah milik kalian. Tapi Tuhan begitu bijaksana, sehingga Hari Kemenangan itu bisa dirayakan oleh semua, ya termasuk oleh orang sepertiku.
Ada harapan sepenuh hati agar kelak bisa bertemu Ramadhan lagi. Berpuluh Ramadhan masih ingin kutemui, berpuluh Ramadhan semoga mampu membuatku merubah dan memperbaiki diri. Apakah sahabat pun punya harapan dan keinginan yang sama?
Hari ini hari yang fitri, hari dimana selayaknya kita kembali menemukan kebersihan jiwa. Tak boleh lagi ada dendam permusuhan, tak boleh lagi ada iri dengki. Semsetinya tak hanya hari ini, tapi selamanya. Dunia kan menjadi indah saat slaturahim dijalin dengan tulus, saat persaudaraan dan persahabatan di bangun dengan ikhlas, saat saling menghormati dan peduli bukan lagi basa-basi. Saat kita menjadi pihak yang berkontribusi pada perdamaian dunia, menjadi harmoni yang indah dalam kehidupan di dunia.
Sahabat, dengan kesungguhan hati kumemohon maaf pada kalian. Atas segala dosa dan kesalahan, baik yang kusadari atau pun yang terlupakan. Sebagai insan biasa seringkali ada salah sikap dan kata. Seringkali berulah dan membuat banyak hati terluka. Mohon maafkan, mohon dengan sangat agar Allah pun memaafkannya.
Sahabat, bila kau merasa memiliki salah adaku, jangan kau cemas hati. Karena tanpa au pinta au telah memaafkannya dari jauh-jauh hari. Biarkan hanya kebaikan yang menyelimuti jalinan diantara kita.
Sahabat, selamat merayakan hari kemenangan. Minal aidin wal faidzin. Mohon maaf lahir bathin.
Wassalam
Achoey
Pemuda itu berdiri di tepian, memandang riak air yang seperti menari menuruti irama dalam hatinya. Ada kesejukan yang menawan, bukan sekedar karena dia berlindung dari terik mentari di bawah rindang pepohonan, bukan pula karena tiupan angin yang dengan lembut menerpa wajah dan tubuhnya. Tapi kesejukan itu bersumber dari hatinya yang tenang, hati yang senantiasa berbaik sangka pada Tuhan, atas kehidupan yang dia jalani di muka bumi ini.
Dilihatnya seorang lelaki setengah baya yang sedang memancing tak jauh dari tempatnya berdiri. Meski sedari tadi tak didapati ikan yang tertipu akan umpan di kail pancingnya, dia tetap duduk tenang. Ah, betapa sabarnya lelaki itu. Yang tetap berikhtiar dengan terus memasang umpan yang lagi-lagi hilang.
Disandarkanya pundak ke pohon tegap, lalu dibukalah SMS yang baru saja menghampiri inbox ponsel sederhanannya. Senyum pun mengembang dari bibirnya ketika membaca isi SMS yang selalu saja nyaris sama, ungkapan perhatian dari gadis terhadap seorang jejaka.
Diraba hatinya dengan rasa, namun masih saja seperti sedia kala. Tautan itu masih belum terwujud jua, sementara waktu terus melaju, dan pertanyaan akan hal yang sama pun semakin menumpuk di bahu. Diliriknya lelaki yang mancing tadi yang mengucap syukur memecah sunyi, ada ikan besar di ujung pancingnya, dan dia teramat bahagia. Dan sang pemuda pun bergumam, “ya. itulah buah kesabaran, dan aku percaya Pada-Mu, kau pun kan mempertemukanku dengan sosok indah itu.”
Sang pemuda membuka kemasan roti, lalu dilemparkannya roti itu ke danau. Sepertinya ikan-ikan bahagia, dan itulah rejeki yang mereka terima dan rejeki memang kadang datang tanpa diduga, seperti halnya cinta.
Hari demi hari, kurangkai bibir tak hanya di bibir, tapi juga di hati. Meski kutahu, mungkin tak utuh sepanjang waktu, karena rapuhku. Padahal semestinya dzikir tak pernah terusir, bahkan di saat fikir dan ikhtiar menjalankan tugasnya, dari awal hingga akhir.
Saat tubuh merebah, baru CINTA menumbuh. Tersadar akan dosa kecil dan besar, dosa yang nyata dan tersamar. Entah kenapa harus demikian. Kenapa harus disadarkan dengan teguran. Padahal tak semestinya menunggu nikmat sehat diangkat, lalu saat sakit baru CINTA kembali tertaut.
Tapi inilah aku, lelaki rapuh yang baru mengeja CINTA, mencobanya menjadi biasa, namun seringkali kembali terlena oleh dunia, dan CINTA pun kembali sulit terasa.
Benar kiranya bahwa meski di sirami air dari tujuh samudera, bahkan di kucuri air hujan dari tujuh langit pun, CINTA tak akan tumbuh, jika hati tetap dinahkodai kehendak buta. Tak kan tumbuh jika hati dikunci dengan gelimang dosa. Tak kan tumbuh jika hati dibasuh nafsu selalu, diselimuti keangkuhan wujud pengusiran jatidiri penghambaan. Tak kan tumbuh, tak kan.
Maka aku bahagia jika air mata berlinang saat mensyukuri nikmatmu, bukankah air mata ini adalah kado CINTA. Aku bahagian jika air mata berlinang saat teringat dosa dan memohon ampun Kepada Mu, bukankah ini juga sedikit tanda CINTA. Maka, jangan biarkan hatiku beku, tanpa CINTA. Hingga tak ada lagi air mata, yang bisa menjaga anggota tubuh yang terbasuh, haram terjilat api neraka.
Sudah selayaknya kita percaya, bahwa nikmat Tuhan itu teramat banyaknya. Jikalau kita jadikan lautan sebagai tinta, dan pepohonan sebagai penanya, maka yakin itu tak cukup tuk menuliskan semua nikmat yang telah Tuhan berikan.
Namun, dalam perjalanan keseharian, seringkali diri ini terlenakan. Hingga hati pun tandus dari kesyukuran. Dan di saat bergelimang kenikmatan itu, seringkali kita malah semakin jauh dari Tuhan. Lalu, kerendah-hatian pun terpinggirkan keangkuhan, kepekaan pun terasingkan ketamakkan. Hingga akhirnya Tuhan coba cabut sedikit nikmat yang diberikannya, sebagai tanda sayang.
Saat itu terjadi, penyikapan manusia tentunya akan berbeda. Ada yang tersadar akan lakunya dan kembali merapat pada Tuhan-nya. Ada yang malah tidak menerimanya, dan semakin menjauhkan dirinya.
Sahabat, semoga kita termasuk golongan manusia yang ketika diberikan ujian, maka itu kan mampu semakin mendekatkan diri kita pada Tuhan. Lalu, sabar dan syukur pun menjadi bagian dari kehidupan yang terfatrikan.

