• 19

    Sep

    Surat Permohonan Maaf (Minal Aidin Wal Faidzin)

    Kepada Sahabat-sahabatku Dalam kebahagiaan Hati Gema takbir mengalun memecah sunyi. Menghiasi suasana gerimis hati. Signal perpisahan akan Ramadhan tahun ini kuat sudah. Kerinduan pun tertumpah. Bersama sederet tanya yang meronta meminta jawabnya. “Apa yang kau dapat di Ramadhan kali ini”, tanya menghujam jiwaku yang bersimpuh meski raga tegar adanya. Aku adalah insan yang merugi, tak mampu memanfaatkan Ramadhan dengan hiasan penuh amal kebaikan. Berbahagialah kalian yang gembira karena teah mendapatkan hasil dari sebulan pengemblengan ketakwaan. Maka Hari Kemenangan adalah milik kalian. Tapi Tuhan begitu bijaksana, sehingga Hari Kemenangan itu bisa dirayakan oleh semua, ya termasuk oleh orang sepertiku. Ada harapan sepenuh hati agar kelak bisa bertemu Ramadhan lagi. Berpuluh
  • 3

    Aug

    Pemuda di Tepi Danau

    Pemuda itu berdiri di tepian, memandang riak air yang seperti menari menuruti irama dalam hatinya. Ada kesejukan yang menawan, bukan sekedar karena dia berlindung dari terik mentari di bawah rindang pepohonan, bukan pula karena tiupan angin yang dengan lembut menerpa wajah dan tubuhnya. Tapi kesejukan itu bersumber dari hatinya yang tenang, hati yang senantiasa berbaik sangka pada Tuhan, atas kehidupan yang dia jalani di muka bumi ini. Dilihatnya seorang lelaki setengah baya yang sedang memancing tak jauh dari tempatnya berdiri. Meski sedari tadi tak didapati ikan yang tertipu akan umpan di kail pancingnya, dia tetap duduk tenang. Ah, betapa sabarnya lelaki itu. Yang tetap berikhtiar dengan terus memasang umpan yang lagi-lagi hilang. Disandarkanya pundak ke pohon tegap, lalu dibukalah SMS
  • 31

    Jul

    Mengukir Dzikir Demi CINTA

    Hari demi hari, kurangkai bibir tak hanya di bibir, tapi juga di hati. Meski kutahu, mungkin tak utuh sepanjang waktu, karena rapuhku. Padahal semestinya dzikir tak pernah terusir, bahkan di saat fikir dan ikhtiar menjalankan tugasnya, dari awal hingga akhir. Saat tubuh merebah, baru CINTA menumbuh. Tersadar akan dosa kecil dan besar, dosa yang nyata dan tersamar. Entah kenapa harus demikian. Kenapa harus disadarkan dengan teguran. Padahal tak semestinya menunggu nikmat sehat diangkat, lalu saat sakit baru CINTA kembali tertaut. Tapi inilah aku, lelaki rapuh yang baru mengeja CINTA, mencobanya menjadi biasa, namun seringkali kembali terlena oleh dunia, dan CINTA pun kembali sulit terasa. Benar kiranya bahwa meski di sirami air dari tujuh samudera, bahkan di kucuri air hujan dari tujuh lan
  • 13

    Jul

    Banyaknya Nikmat Tuhan Tak Tertuliskan

    Sudah selayaknya kita percaya, bahwa nikmat Tuhan itu teramat banyaknya. Jikalau kita jadikan lautan sebagai tinta, dan pepohonan sebagai penanya, maka yakin itu tak cukup tuk menuliskan semua nikmat yang telah Tuhan berikan. Namun, dalam perjalanan keseharian, seringkali diri ini terlenakan. Hingga hati pun tandus dari kesyukuran. Dan di saat bergelimang kenikmatan itu, seringkali kita malah semakin jauh dari Tuhan. Lalu, kerendah-hatian pun terpinggirkan keangkuhan, kepekaan pun terasingkan ketamakkan. Hingga akhirnya Tuhan coba cabut sedikit nikmat yang diberikannya, sebagai tanda sayang. Saat itu terjadi, penyikapan manusia tentunya akan berbeda. Ada yang tersadar akan lakunya dan kembali merapat pada Tuhan-nya. Ada yang malah tidak menerimanya, dan semakin menjauhkan dirinya. Sahabat
- Next

Author

Follow Me